KETUHANAN
TRANFORMASI KETUHANAN (TANTRA) DALAM ERA MODERN (DIGITAL)
Film Mickey
17 dan The Old Guard: Kematian, Keabadian, dan Relevansi Tuhan serta
Ketuhanan
Kematian merupakan salah satu
tema fundamental dalam pemahaman manusia tentang eksistensi. Dalam banyak
tradisi agama dan filsafat, kematian sering kali dikaitkan berbagai fenomena, baik sebagai hukuman, jalan menuju kehidupan setelah mati, atau
siklus reinkarnasi. Namun, bagaimana jika manusia tidak bisa mati? Dua film, Mickey
17 dan The Old Guard,
mengeksplorasi gagasan ini dengan pendekatan yang berbeda: satu melalui sains
dan teknologi (mickey 17), yang lain melalui fenomena biologis yang misterius (
old guardian ) . Dalam kedua film ini, peran Tuhan (teologi) sebagai pengatur kehidupan dan kematian tampak
kabur, tetapi konsep "ketuhanan" (tantra) bisa tetap
relevan dalam konteks yang lebih luas.
Film sebagai
Produk Kebudayaan Modern (Digital)
Film bukan sekadar hiburan, tetapi juga medium penting dalam refleksi kebudayaan modern. Layaknya wayang, tari, atau opera di era sebelumnya, film menjadi alat bagi masyarakat untuk mengeksplorasi ide-ide besar yang berakar pada realitas. Dalam dunia digital saat ini, film mampu membahas isu-isu filosofis, sosial, dan teknologi dengan cara yang lebih luas dan mendalam, menjadikannya ruang yang relevan bagi diskusi eksistensial, termasuk tentang kehidupan dan kematian.
Film seperti Mickey 17 dan Old Guard menarik untuk dianalisis karena mengangkat ide yang tidak hanya fiksi tetapi juga mungkin menjadi kenyataan. Teknologi kloning yang digunakan dalam Mickey 17 bukanlah sekadar imajinasi liar; sains modern telah memungkinkan kloning pada tingkat tertentu, baik pada hewan maupun sel manusia. Oleh karena itu, pertanyaan tentang keabadian melalui kloning bukan lagi semata spekulasi, melainkan sesuatu yang berpotensi terjadi. Begitu pula dengan gagasan regenerasi tubuh dalam The Old Guard, yang bisa saja berkaitan dengan eksplorasi mutasi genetik dan rekayasa biologis yang sedang dikembangkan dalam dunia sains.
Kematian dan Keabadian dalam Mickey 17 dan The Old Guard
Dalam Mickey 17, manusia
mengatasi kematian melalui teknologi kloning. Protagonis, Mickey Barnes, adalah
seorang "ekspendabel" sebuah individu yang dapat dikloning setiap
kali ia mati. Kesadarannya dapat ditransfer ke tubuh baru yang
identik, menciptakan ilusi keabadian dalam batasan dunia fisik. Ini menunjukkan
bagaimana sains dapat mereplikasi fungsi kehidupan dan menghapus batasan
biologis kematian, setidaknya dalam pengertian tradisional.
Sementara itu, The Old Guard
menghadirkan sekelompok prajurit yang secara misterius tidak bisa mati. Mereka
terluka, tetapi tubuh mereka terus-menerus meregenerasi dirinya sendiri tanpa
penjelasan ilmiah yang konkret. Keabadian mereka bersifat acak tidak semua
orang mendapatkannya, dan mereka sendiri tidak memahami mengapa atau bagaimana
mereka menjadi seperti itu. Faktor biologis dalam film ini memberikan kesan
bahwa keabadian mereka bukan hasil kehendak Ilahi (Tuhan), melainkan bagian
dari sistem alam yang belum terjelaskan.
Tuhan dan
Ketuhanan: Apakah Masih Relevan?
Baik Mickey 17 maupun The
Old Guard tidak secara eksplisit menghubungkan konsep keabadian dengan
Tuhan dalam pengertian agama. Dalam Mickey 17, kehidupan dan kematian
tidak lagi berada di tangan Tuhan, melainkan di tangan sains dan teknologi
manusia. Dalam The Old Guard, ketidakmampuan untuk mati dianggap sebagai
suatu anomali alamiah, bukan berkat atau kutukan dari Tuhan.
Apakah ini berarti Tuhan tidak
relevan dalam kedua film tersebut? Jika Tuhan dipahami sebagai entitas pencipta yang mengatur kehidupan
dan kematian secara absolut, maka keberadaan sistem kloning dalam Mickey 17
atau regenerasi dalam The Old Guard tampak menyingkirkan peran tersebut.
Namun, jika kita membedakan antara Tuhan dan ketuhanan, kita
bisa menemukan sudut pandang lain.
Jika kita melihat Tuhan
sebagai konsep teologis dalam agama-agama tradisional, maka Tuhan adalah
entitas yang memiliki kehendak, kesadaran, dan kekuasaan absolut atas kehidupan
dan kematian. Dalam film-film ini, Tuhan dalam pengertian ini seolah tidak
berperan karena manusia telah mengambil kendali atas keabadian melalui sains
atau fenomena alam yang belum terjelaskan.
Namun, jika kita memahami ketuhanan
sebagai sesuatu yang lebih luas seperti dalam konsep Tantra maka keabadian
dalam kedua film ini tetap bisa dikaitkan dengan prinsip-prinsip fundamental
eksistensi. Dalam Tantra, ketuhanan tidak harus berwujud sosok atau entitas
tertentu, melainkan dapat berupa kesadaran universal, energi kehidupan, atau
prinsip non-dualitas (Advaya). Dengan demikian, keabadian dalam Mickey
17 dan The Old Guard bisa dipahami sebagai ekspresi dari suatu
keteraturan kosmis yang lebih dalam, bukan sebagai intervensi dari Tuhan
personal.
Ketuhanan
dalam Konteks Keabadian
pertanyaan yang lebih menarik
adalah bagaimana konsep ketuhanan berubah dalam dunia di mana kematian tidak
lagi menjadi batas akhir kehidupan. Ketuhanan dapat dipahami sebagai prinsip
yang memberi makna pada keberadaan manusia, bukan sekadar sebagai penguasa
kehidupan dan kematian. Dalam Mickey 17, meskipun kematian bisa diatasi,
pertanyaan tentang identitas dan individualitas tetap relevan. Apakah Mickey
yang baru adalah Mickey yang sama, atau hanya tiruan dari yang lama? Dalam The
Old Guard, karakter-karakter abadi mengalami dilema eksistensial karena
terus hidup sementara dunia di sekitar mereka berubah.
Konsep ketuhanan juga bisa muncul dalam bentuk nilai-nilai kemanusiaan, seperti empati, dharma, dan tujuan hidup. Jika manusia bisa hidup selamanya, apakah itu berarti kehidupan menjadi tidak berharga? Atau justru tantangan baru muncul dalam mencari makna yang lebih besar di luar sekadar bertahan hidup?
Dalam Mickey 17 dan The
Old Guard, manusia mengatasi kematian melalui teknologi atau anomali
biologis, sehingga peran Tuhan sebagai pengatur kehidupan dan kematian tampak
tidak relevan dalam narasi tersebut. Namun relevan ketuhanan (
tantra) sebagai konsep. Jika Tuhan dalam teologi adalah sosok yang
memiliki kendali atas kehidupan dan kematian, maka konsep ini memang tampak
tersingkir dalam kedua film. Namun, jika ketuhanan dipahami dalam
pengertian Tantra sebagai kesadaran universal atau prinsip keteraturan, maka
konsep ini masih dapat ditemukan dalam refleksi eksistensial
karakter-karakter yang hidup abadi, artinya Dalam Tantra, "ketuhanan"
sebagai kesadaran universal atau prinsip keteraturan lebih dekat dengan
pemahaman tentang kesadaran murni (Chit), keterhubungan kosmik, atau hukum
keteraturan dalam eksistensi.
Jika dikaitkan dengan
karakter yang hidup abadi dalam refleksi eksistensial, maka bisa dikatakan
bahwa keabadian mereka bukan sekadar keberlanjutan fisik, tetapi juga ekspresi
dari KESADARAN yang melampaui waktu dan perubahan. Mereka menjadi manifestasi
dari prinsip keteraturan yang lebih besar, yang TIDAK tunduk pada hukum fana
biasa.
Dibandingkan dengan Tuhan dalam teologi yang cenderung dogmatis dan statis, konsep ketuhanan dalam Tantra lebih fleksibel dan dinamis, mampu beradaptasi dengan perubahan/ dinamika jaman. Tantra tidak membatasi ketuhanan pada satu figur atau aturan mutlak, tetapi membiarkannya berkembang sesuai dengan pemahaman manusia terhadap realitas. Dengan demikian, dalam dunia modern yang terus berkembang dengan teknologi dan sains, konsep ketuhanan dalam perspektif Tantra tetap relevan sebagai prinsip yang memberikan makna terhadap kehidupan dan keberadaan manusia, bahkan dalam kondisi keabadian.
Mickey 17,
disutradarai oleh Bong Joon Ho dan dibintangi oleh Robert Pattinson. film rilis
bulan maret 2025.
The Old
Guard, disutradarai oleh Gina Prince-Bythewood dan dibintangi oleh Charlize
Theron, Film ini dirilis pada tahun 2020 dan tersedia secara eksklusif di
platform Netflix. Meskipun tidak memiliki data box office tradisional karena
distribusi digital, The Old Guard menjadi salah satu film Netflix yang paling
banyak ditonton sepanjang masa.


Komentar
Posting Komentar