SAJEN SEBAGAI KOSMOS NUSANTARA DAN AKAR PENGETAHUAN EKOLOGI
SAJEN SEBAGAI KOSMOS NUSANTARA DAN
AKAR PENGETAHUAN EKOLOGI
Tulisan ini
membahas makna dan peran sajen dalam tradisi Nusantara sebagai ekspresi
kosmologis yang mengakar pada pengetahuan ekologis. Dengan merujuk pada sumber klasik
seperti Kakawin Sutasoma, Serat Centhini, dan hasil kajian
arkeologi serta ekofilsafat modern, tulisan ini menelaah bagaimana sajen tidak
hanya berfungsi sebagai persembahan simbolik, tetapi juga sebagai sarana
konservasi biodiversitas, pengelolaan sumber daya lokal, dan penjaga
keseimbangan antara manusia dan semesta. Kajian ini menggunakan pendekatan
ekosemiotika, dan morfologi-etimologis terhadap istilah “sajen” dari akar kata ji,
yang berarti "kekuatan semesta". Dalam tradisi Nusantara, "kosmos" tidak sekadar dipahami
sebagai jagat raya dalam arti astronomis, melainkan sebagai tatanan
keterhubungan antara ruang, waktu, materi, dan makna yang membentuk
realitas kehidupan. Kosmos berasal dari akar kata Yunani kosmein
yang berarti "menata" memiliki padanan fungsional dalam dunia Jawa
dan Austronesia lalu Nusantara berupa istilah seperti mandala, bhuana
agung-bhuana alit, atau bahkan sajen itu sendiri sebagai
representasi mikro dari tatanan makro.
Dalam sajen,
kosmos dimaknai sebagai struktur kesaling terhubungan antara unsur-unsur: pusat
energi (pusat gunung/tumpeng), penjuru arah (simbol flora-fauna lokal), dan
elemen penghubung (api, air, dupa, makanan). Ini bukan susunan acak, melainkan
penyusunan ulang realitas semesta dalam bentuk miniatur yang bisa diindera dan
diolah dalam laku.
Secara
kognitif, sajen berfungsi sebagai peta makna (semiotic map) yang
menjembatani alam kasatmata dengan tatanan nilai-nilai ekologis, etis, dan
sosial. Dalam sajen, manusia tidak mengposisikan diri sebagai penguasa atas
alam, melainkan sebagai penjaga ritme kosmos entitas sadar yang bertugas
menyelaraskan diri dengan dinamika ekologis yang terus berubah. Dengan
demikian, sajen adalah kosmogram: narasi simbolik tentang semesta yang
dirakit dalam bentuk makanan, bunga, hewan, dan benda-benda alami.
Sajen menata
ruang dan waktu dengan memilih waktu-waktu ritus tertentu (mitoni, selametan,
ruwatan), serta ruang yang diritualkan melalui prinsip arah dan pusat. Ia
adalah bentuk ekologi simbolik yang mengajarkan manusia untuk melihat
keberlanjutan hidup bukan sebagai eksploitasi sumber daya, melainkan sebagai
pengulangan harmonis dari irama semesta: tanam, rawat, panen, pulih.
Dengan
demikian, dalam perspektif rasional dan sains modern, kosmos dalam sajen dapat
dimaknai sebagai sistem ekologis spiritual yang merekam, mengingatkan, dan
membimbing manusia agar hidup selaras dengan biosfer lokalnya. Ia adalah
sistem memori ekologis yang dikodekan dalam bahasa simbol, rasa, dan bahan,
bukan dalam aksara dan angka namun tak kalah kompleks dalam narasi ekologinya.
Sajen sebagai
Kosmos Nusantara
Dalam
berbagai teks klasik seperti Kakawin Sutasoma (Santoso, 1975), struktur
kosmos Jawa digambarkan sebagai mandala, sebuah tata ruang yang menyimbolkan
keteraturan semesta. Sajen disusun berdasarkan struktur ini: pusat (pusat
energi), empat penjuru (unsur-unsur alam), dan elemen penghubung (makanan,
dupa, air, api).
Pola ini juga
tercermin dalam Serat Centhini yang mencatat jenis-jenis sajen dalam
upacara seperti selametan, mitoni, dan ruwatan. Unsur-unsur seperti tumpeng
(tanaman padi), ayam cemani (unggas endemik), kembang setaman (flora lokal),
dan jajan pasar (olahan tradisional) bukanlah pilihan sembarangan. Semua
memiliki fungsi ekosemiotik: menandai keberagaman hayati lokal dan
menyelaraskan tindakan manusia dengan ritme alam. Dalam sistem kosmologi
Nusantara, seperti tercermin dalam Kakawin Sutasoma (Santoso, 1975),
semesta dipandang bukan sebagai ruang kosong netral, melainkan sebagai medan
keteraturan yang hidup: sebuah mandala struktur konsentrik yang memusat
dari titik energi inti (bindu) dan mengalir ke empat arah mata angin
(cakrawala) melalui simpul-simpul energi simbolik dan material. Mandala ini
bukan hanya struktur konseptual; ia menjadi cetak biru dalam praktik sosial dan
ritual, termasuk penyusunan sajen.
Pusat Energi
dan Orientasi Mandala
Dalam ritual,
pusat sering ditandai dengan api (api/bunga, lilin, dupa) dan makanan
utama seperti tumpeng, lambang gunungan kosmis (Mahameru) yang
menjadi sumbu antara manusia, bumi, dan langit. Secara ekosemiotik, tumpeng
bukan sekadar sajian visual, tapi menyiratkan hubungan simbiotik antara manusia
dan tanah: padi sebagai tanaman budidaya utama menggambarkan domestikasi alam
yang sadar dan penuh restu terhadap siklus pertanian tropis.
Simbolisme
ekologis: Pusat → Gunungan → Tanaman pangan → Ketahanan hayati → Keseimbangan
nutrisi dalam ekosistem manusia-alam.
Elemen
Penghubung: Ritual sebagai Teknologi Sosial Ekologis
Elemen-elemen
penghubung seperti dupa, jajan pasar, dan air suci tidak berdiri
sendiri; mereka menjadi kanal komunikasi antara manusia, leluhur, dan
lingkungan. Misalnya, dupa bukan sekadar aroma spiritual, tapi memiliki
basis kimiawi seperti resin damar atau gaharu yang berasal dari
hutan tropis dan menunjukkan nilai ekosistem hutan sebagai penyedia rempah dan
resin.
- Jajan pasar → makanan lokal berbasis
bahan non-pabrik (gula aren, ketan, santan) yang memperkuat ekonomi
berbasis komunitas dan agroekosistem tradisional.
- Kendi tanah liat →
representasi kerajinan mineral lokal dan teknologi pengolahan tanah
sebagai materi budaya yang menghubungkan manusia dengan geologi lokal.
Teknologi
sosial ekologis: Sajen bukan hanya simbol → Tapi juga sistem
pemeliharaan memori ekologis → Mengikat manusia pada praktik berkelanjutan
(misalnya: hanya memakai tanaman musiman, hewan tidak dibantai sembarangan,
dsb.)
Narasi Serat
Centhini: Ensiklopedia Ritual Ekologis
Serat
Centhini, yang disusun pada abad ke-19 sebagai semacam ensiklopedia budaya Jawa,
memuat banyak deskripsi sajen untuk berbagai ritus. Dalam Centhini, ragam sajen
dalam konteks selametan, tedhak siten, siraman, dan ruwatan
menunjukkan pemilihan bahan yang disesuaikan dengan musim, daerah, dan
ketersediaan hayati.
Contoh:
- Tedhak siten: menggunakan jadah,
jenang, dan berbagai makanan berbahan dasar beras dan kelapa dua komoditas
tropis penting yang memerlukan ekosistem yang sehat (sawah dan kebun
kelapa).
- Ruwatan anak sukerta: selain
simbol penolak bala, jenis-jenis makanan yang digunakan juga mencerminkan
keterkaitan manusia dengan pangan sehat, makanan non-sintetis, dan hewan
yang dihormati.
Ini semua
merupakan bagian dari ekologi kognitif: bagaimana sistem berpikir lokal
memetakan lingkungan hidup ke dalam bentuk ritual dan narasi kolektif.
Sajen dalam
struktur kosmos Nusantara bukanlah persembahan mistis tanpa makna. Ia adalah mandala
ekologis, peta semiotik dari ekosistem lokal yang dikemas dalam bentuk
estetika, ritual, dan makanan. Setiap unsur sajen mewakili lapisan makna:
- Ontologis: realitas dan posisi manusia di
tengah semesta.
- Ekologis: jenis tanaman/hewan lokal yang
menandakan biodiversitas yang harus dirawat.
- Sosiokultural: cara komunitas
membangun teknologi sosial berbasis kesadaran ekologis.
Dengan
demikian, dalam perspektif modern dan saintifik, sajen adalah praktik
ekosemiotik yang berfungsi sebagai alat transmisi pengetahuan ekologis
antargenerasi.
Pengetahuan Ekologis dalam Praktik Sajen
Praktik sajen
menekankan pentingnya tanaman endemik dan hewan lokal sebagai unsur pokok.
Misalnya, penggunaan daun pisang, kelapa, bunga melati, umbi-umbian dan beras
dalam berbagai sajen menunjukkan ketergantungan pada agroekosistem lokal. Tanpa
disadari, praktik ini menjaga kelestarian jenis tumbuhan dan hewan, serta
mendorong budidaya berkelanjutan.
Kajian
Bellwood et al. (2006) tentang masyarakat Austronesia menunjukkan bahwa praktik
ritual dan pengelolaan alam saling terkait erat. Sajen menjadi cara masyarakat
memetakan dan merawat lingkungannya. Sajen bukan sekadar persembahan, tetapi
bentuk komunikasi ekologis: sebuah pernyataan bahwa manusia sadar akan batas
dan tanggung jawabnya terhadap alam.
Sajen dan
Ekofilsafat: Perspektif Sains dan Tradisi
Dalam
kerangka ekofilsafat Naess (1989), manusia tidak dipisahkan dari alam, tetapi
merupakan bagian inheren dari ekosistem. Sajen mencerminkan pemahaman ini.
Melalui tindakan simbolik, manusia mengingatkan dirinya untuk hidup seimbang
dan berkesadaran ekologis.
Griffin
(2011) menyebutkan bahwa keindahan dalam tradisi bukanlah estetika semata,
tetapi cara untuk menjaga ketertiban ekologis. Sajen adalah manifestasi
keindahan yang mengandung makna ekologis: penyusunan warna, aroma, bentuk, dan
rasa secara harmonis menggambarkan keteraturan alam. Ini adalah ekspresi
filsafat hidup yang selaras.
Konteks
Arkeologis: Bukti Visual dan Struktur Representasi
Dalam studi
arkeologi klasik (Krom, 1927; Bosch, 1961; Pullen, 2021), banyak ditemukan
relief dan arca yang menunjukkan representasi sajen dalam berbagai bentuk.
Sajen hadir dalam konteks pemujaan, pertanian, dan upacara siklus hidup. Relief
di Candi Borobudur dan Prambanan menampilkan alat-alat sajen, flora lokal, dan
aktivitas komunitas, membuktikan bahwa sajen adalah praktik yang sistemik dan
integral dalam masyarakat kuno.
Penelitian
tekstil oleh Pullen juga menguatkan bahwa banyak simbol dalam pakaian dan
arsitektur berfungsi sebagai perpanjangan simbolik dari sajen. Artinya,
struktur kosmos Nusantara termanifestasi dalam berbagai bentuk, dan sajen
adalah episentrum dari pengetahuan tersebut.
Dinamika
Sejarah: Dari Hindu-Buddha ke Islam dan Modernitas
Dalam
transisi budaya dari era Hindu-Buddha ke Islam, bentuk sajen mengalami adaptasi
tanpa kehilangan esensinya. Babad Tanah Jawi (Meinsma, 1874; Remmelink,
2022) menunjukkan bahwa bentuk-bentuk sajen tetap hidup dalam tradisi
Islam-Jawa, seperti slametan dan tahlilan. Adaptasi ini menunjukkan kelenturan
kosmologi lokal terhadap berbagai bentuk ideologi luar tanpa kehilangan akar ekologisnya.
Wink (1990)
mencatat bahwa sinkretisme di Asia Tenggara menciptakan lapisan baru dalam
praktik sajen. Sajen menjadi sarana diplomasi budaya: mempertemukan nilai-nilai
lokal dengan ajaran baru, namun tetap menjaga keharmonisan ekologis dan sosial.
Sajen di Era
Modern: Tantangan dan Peluang
Modernisasi,
urbanisasi, dan globalisasi menyebabkan banyak tradisi sajen ditinggalkan atau
dipandang mistis. Padahal, dalam konteks krisis iklim dan degradasi lingkungan,
nilai-nilai ekologis yang terkandung dalam sajen menjadi sangat relevan.
Revitalisasi
praktik sajen dapat dilakukan melalui pendekatan ilmiah dan edukatif. Misalnya,
sekolah dan komunitas lokal dapat memperkenalkan praktik sajen sebagai bentuk
pembelajaran ekologi: mengenali tanaman lokal, memahami musim tanam, dan
menghargai keberagaman hayati.
Dengan
demikian, sajen tidak lagi dilihat sebagai bentuk takhayul, tetapi sebagai
ekspresi kultural dari ilmu pengetahuan lokal yang berlandaskan pengalaman
ekologis berabad-abad.
Penutup
Sajen sebagai
kosmos Nusantara adalah ekspresi menyeluruh dari filosofi hidup yang
berlandaskan kesadaran ekologis, kesetimbangan energi, dan keindahan yang
teratur. Etimologi dari kata ji menyiratkan bahwa seluruh praktik sajen
adalah upaya menjaga energi semesta tetap harmonis melalui relasi manusia dan
alam.
Melalui berbagai
kajian kita melihat bahwa sajen bukanlah warisan mati, melainkan sistem
pengetahuan hidup yang dapat menjadi solusi ekologis masa depan. Kajian ini
membuka jalan untuk reinterpretasi praktik lokal dengan cara yang rasional,
ilmiah, dan berakar kuat pada konteks Nusantara.
Dari
literasi sebagai berikut :
Santoso,
S. (Ed.). (1975). Sutasoma: A Study in Javanese Wajrayana. New Delhi:
International Academy of Indian Culture
Griffin,
J. (2011). On the Origin of Beauty: Ecophilosophy in the Light of
Traditional Wisdom. World Wisdom
Naess,
A. (1989). Ecology, Community and Lifestyle: Outline of an Ecosophy (D.
Rothenberg, Trans.). Cambridge University Press.
Krom,
N. J. (1927). Barabudur: Archaeological Description (Vols. 1–2). The
Hague: Martinus Nijhoff.
Bellwood, P., Fox, J. J.,
& Tryon, D. (Eds.). (2006). The Austronesians: Historical and Comparative
Perspectives. ANU E Press.
Pullen, L. (2021). Patterned Splendour:
Textiles Presented on Javanese Metal and Stone Sculptures; Eighth to Fifteenth
Century. Singapore: ISEAS–Yusof Ishak Institute.


_page-0015.jpg)
Komentar
Posting Komentar