AKAR SESAJI


AKAR SESAJI DARI TRADISI TANTRA

Tantra memandang sajen (sesaji) bukan sekadar persembahan simbolis, tetapi sebagai jembatan  yang menghubungkan tatanan makrokosmos dan mikrokosmos. Dalam pemahaman tantrika, sajen merupakan media aliran Śakti, energi primordial yang menghidupi semesta. Ia bukanlah benda mati, melainkan wadah yang menyalurkan kekuatan laten dari realitas terdalam.

istilah bahasa sankerta yaitu proses morfologi Kṛtabhāsa memuat sumber yang sangat penting umtuk menguak peradaban Java pada khususnya dan peradaban Nusantara pada umumnya. Kṛtabhāsa masalah yang sangat penting, yaitu Nirukta yakni Pāṇini dalam karyanya Aṣṭadhyāyī dan Patañjali dalam Mahābhasya. Nirukta merupakan Langkah pertama yang ditempuh, yakni asal-usul kata sebelum membuka tabir yang lebih luas mengenai peradaban yang tersimpan di dalam bahasa.

Bahasa Java merupakan rumpun Austronesia sub rumpun Melayu Polinesia barat , Bahasa infleksi, maka Nirukta-nya berupa kata dasar mulai yang berjumlah satu suku kata sampai kata yang memiliki beberapa suku kata. Kata yang berasal dari satu suku kata antara lain: -ma; -ka;-bi;-ki;-ni,-ji. Kemudian kata dasar itu dibentuk dengan afiksasi: prefix, ‘awalan’; infiks, ‘sisipan’; sufiks, ‘akhiran’ dan konfiks, ‘prefiks dan sufiks diturunkan secara bersama-sama’.

Pada bahasan ini ditunjukkan kata yang dibentuk dari satu suku kata dan didahului. Prastāvana dengan prefiks: terutama honorefiks prefix: ra menjadi kata rama, raka, raki, rabi; yang didahului dengan prefix sa-; a-; pa-N- menjadi kata saji, aji, pañji, dnn sebagainya.

Sementara itu untuk perbandingan, kita mengenal Bahasa fleksi, Bahasa yang pembentukan katanya berasal dari akar kata, baru diderivasikan kata dasarnya, seperti misalnya Bahasa Sansekerta, Beberapa contoh dapat ditunjukkan di sini: √as, ‘asti’; √kṛ, ‘karoti’; √gam, ‘gacchati’; √tud, ‘tudati’; √dīv, ‘dīvyati’; √muc, ‘muñcati’; √dṛś, ‘darśati’; √nī, ‘nayati’; √cur, ‘corayati’; √pūj, ‘pūjāyati’ Dari elemen gramatika yang paling kecil, kita meloncat ke elemen yang besar, yaitu tataran Dhvani, yang didasarkan pada elemen-elemen peradaban, yaitu tataran ritual, yang disebut Yajña dan Maṇḍala, yang dilengkapi dengan panorama (landscape) ekologinya. Untuk samai pada tujuan itu, di sini dimanfaatkan landasan metodologis, yang disebut dalam Saṃskāra/sinkritisme Java punya mengartikan kata Sansekerta Yajña lebih mengarah pada kata Java yang tersimpan dialam teks Java Kṛtabasa, yaitu kata -ji, yakni ‘semua Śakti (kekuatan murni), yang ada di Bhuvana, ‘alam semesta, tidak hanya Bhūmi, tetapi Śakti yang hadir di seluruh Galaksi’.

Kata dasar-ji diderivasi dengan prefiks sa-, yang arti artinya ‘beraneka macam, aneka ragam’, sehingga terbentuk kata saji, ‘yang berarti ‘aneka warna Śakti yang ada di Bhuvana. Ketika Śakti dari saji itu dijadikan bentuk representasi, maka kata saji lalu Yajña dalam Saṃskāra Java diderivasikan menjadi sě-saji-an menjadi sěsajèn atau kerap kali dalam tradisi lisan disebut dengan sajèn.

Sesaji sebagai Prakṛti dalam Tantra

Dalam ajaran Tantra, segala sesuatu adalah perwujudan dari Śakti, daya kosmis yang tak terbatas. Sajen ditempatkan sebagai perwujudan Prakṛti, aspek dinamis/ manifestasi daya dari Śakti yang melahirkan, memelihara, dan meleburkan. Dalam Kulārṇava Tantra (VIII.110), disebutkan:

"Yat kiñcit dīyate dravyam śuddha-bhāvena cetasā,
Tat sarvam paramaṃ brahma tanmayatvam upaiti ca."

(Segala yang diberikan dengan hati yang tulus, dalam esensinya adalah Brahman tertinggi, dan ia akan mencapai kesatuan dengan kesadaran tertinggi.)

Kulārṇava Tantra adalah teks yang berasal dari India Timur, diperkirakan ditulis pada abad ke-11 hingga ke-14 Masehi, memiliki 15 bab/pupuh dan sekitar 2.050 bait. Manuskripnya masih ada, baik dalam bentuk asli (daun lontar) maupun versi cetak modern.

Dari bait ini, tampak jelas bahwa sesaji dalam Tantra bukan sekadar "persembahan" seperti dalam ritual formalistik, melainkan suatu transformasi energi yang membawa persembahannya menjadi satu dengan kesadaran tertinggi.

Pañca-Makāra dan Makna Sesaji

Dalam praktik Tantra, khususnya dalam Śākta Tantra, dikenal konsep Pañca-Makāra (lima elemen murni: Madya, Māṃsa, Matsya, Mudrā, Maithuna). Sajen sering kali merepresentasikan unsur-unsur ini, baik secara eksplisit maupun tersirat, sebagai sarana untuk menyeimbangkan tattva dalam tubuh dan alam semesta. Apa itu tattva? Tattva: Esensi Realitas dalam Tantra

Etimologi
Kata Tattva (
तत्त्व) berasal dari bahasa Sanskerta:

  • Tat (तत्) berarti "itu" atau "kesadaran tertinggi".
  • Tva (त्व) berarti "keadaan" atau "esensi".

Secara literal, Tattva berarti "keadaan dari yang sesungguhnya" atau " dasar dari eksistensi".

Makna Semantik tattva dalam Tantra

Dalam Tantra, Tattva adalah prinsip-prinsip fundamental yang membentuk alam semesta dan kesadaran individu. Ia bukan sekadar elemen fisik, tetapi juga struktur metafisik yang

menjelaskan bagaimana realitas bekerja dari tingkat paling halus hingga yang paling kasar.

Konsep Tattva dalam Shaiva dan Shakta Tantra

Tantra, terutama dalam tradisi Śaiva dan Śākta, mengajarkan bahwa realitas terdiri dari 3 tattva, mulai dari kesadaran absolut (Śiva Tattva) hingga elemen fisik (Pṛthvī Tattva /tanah).

  • Tattva tertinggi: Śiva dan Śakti – Kesadaran dan Energi Murni.
  • Tattva tengah: Pikiran, ego, dan persepsi.
  • Tattva bawah: Elemen fisik seperti air, api, tanah, udara, dan eter.

 



Contoh Sehari-hari

Konsep Tattva dapat diterapkan dalam kehidupan modern:

  • Kesadaran diri (Ātma Tattva): Menyadari keberadaan diri di balik pikiran dan emosi.
  • Pikiran dan emosi (Manas & Ahaṁkāra Tattva): Memahami bahwa emosi hanyalah gelombang yang dapat diamati tanpa terikat.
  • Dunia fisik (Mahābhūta Tattva): Menghormati alam dan memahami bahwa tubuh kita juga bagian dari elemen-elemen semesta.

Dengan memahami Tattva, seseorang dapat menyelaraskan dirinya dengan realitas dan mengalami hidup dengan lebih sadar dan harmonis.

Lima elemen dalam Pañca-Makāra (Madya, Māṃsa, Matsya, Mudrā, Maithuna) adalah bagian dari praktik Tantra yang sering disalahpahami. Secara etimologi dan semantik, kelima istilah ini memiliki makna yang dalam dan bukan sekadar merujuk pada objek literal.

1. Madya (मद्य) – Minuman Fermentasi

Etimologi: Kata Madya berasal dari akar kata mad (मद्) yang berarti "kegembiraan" atau "kondisi ekstasi".

Semantik: Dalam Tantra, Madya bukan hanya minuman beralkohol, tetapi simbol dari kebebasan batin, pelepasan dari belenggu mental, dan pembukaan kesadaran spiritual.

Contoh Sehari-hari: Dalam kehidupan modern, Madya bisa dimaknai sebagai sesuatu yang membawa kesadaran melampaui batas-batas ego, seperti pengalaman meditasi mendalam atau rasa ekstasi saat seseorang tenggelam dalam musik atau seni.

2. Māṃsa (मांस) – Daging

Etimologi: Māṃsa berasal dari kata māṃ (मां) yang berarti "aku" dan sa () yang berarti "dia". Secara literal, ini bisa diartikan sebagai "aku adalah dia" atau "keterhubungan antara entitas".

Semantik: Dalam konteks Tantra, daging representasi pemahaman akan siklus kehidupan dan kematian serta kesadaran bahwa semua wujud adalah manifestasi energi yang sama. Ini juga bisa diartikan sebagai simbol konsumsi energi secara sadar.

Contoh Sehari-hari: Menghargai makanan, tidak membuang-buang sumber daya, dan memahami bahwa segala sesuatu yang kita konsumsi adalah bagian dari rantai kehidupan.

3. Matsya (मत्स्य) – Ikan

Etimologi: Matsya berasal dari kata mat (मत्) yang berarti "kesadaran" dan sya (स्य) yang berarti "bergerak". Dengan kata lain, ikan adalah representasi kesadaran yang bergerak melalui arus kehidupan.

Semantik: Dalam Tantra, ikan melambangkan aliran energi dan kemampuan untuk berenang di antara dualitas dunia tanpa terperangkap di satu sisi saja. Ia juga melambangkan intuisi dan kebijaksanaan.

Contoh Sehari-hari: Mengikuti arus kehidupan dengan fleksibilitas, seperti bagaimana seseorang beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan jati diri.

4. Mudrā (मुद्रा) – Gaya Tangan atau Makanan Kering

Etimologi: Mudrā berasal dari akar kata mud (मुद्) yang berarti segel dan (रा) yang berarti "memberikan".

Semantik: Dalam Tantra, Mudrā bisa merujuk pada gestur tangan yang digunakan dalam meditasi, tetapi juga bisa berarti "tindakan atau kebiasaan yang membawa kebebasan". Dalam konteks makanan, ini merujuk pada biji-bijian atau makanan, yang merepresentasikan kemurnian dan keseimbangan.

Contoh Sehari-hari: Sikap tubuh dan kebiasaan yang membentuk kehidupan kita, seperti postur tubuh yang baik, praktik yoga, atau kebiasaan makan yang sehat.

5. Maithuna (मैथुन) – Penyatuan Energi

Etimologi: Maithuna berasal dari kata mith (मिथ्) yang berarti "bersama" dan una (उण) yang berarti "kesatuan".

Semantik: Ini sering disalahartikan hanya sebagai hubungan seksual, tetapi dalam Tantra, Maithuna adalah penyatuan Śiva dan Śakti, energi maskulin dan feminin dalam diri manusia. Ini adalah keseimbangan antara kesadaran dan energi kreatif.

Contoh Sehari-hari: Keseimbangan antara logika dan emosi dalam pengambilan keputusan, hubungan harmonis antara individu, atau saat seseorang mencapai titik "flow" dalam bekerja atau berkarya

Kelima elemen ini bukan hanya tentang praktik ritualistik, tetapi lebih kepada transformasi kesadaran. Dalam kehidupan sehari-hari, Pañca-Makāra mengajarkan kita untuk:

  • Madya → Melepaskan batasan ego dan menikmati kebebasan batin.
  • Māṃsa → Memahami keterhubungan dan menghargai kehidupan.
  • Matsya → Mengalir dengan kehidupan tanpa terperangkap dalam dualitas.
  • Mudrā → Mengelola kebiasaan dan tindakan yang membawa kesejahteraan.
  • Maithuna → Mencapai keseimbangan antara energi maskulin/logika dan feminin /emosi dalam diri kita.

Dalam praktik Tantra yang lebih dalam, kelima elemen ini digunakan untuk membangkitkan energi Kuṇḍalinī dan membawa kesadaran menuju realisasi tertinggi.

Kaitan Pañca Makāra dan Sesaji secara sederhana

Keduanya memiliki fungsi sebagai medium energi untuk menyelaraskan manusia dengan semesta.

Analogi Simpel:
Bayangkan sesaji seperti "baterai / daya spiritual", yang digunakan untuk menyalurkan energi ke alam semesta. Sementara Pañca Makāra adalah "kabel penghubung" yang membantu manusia mengalami dan memahami energi itu secara langsung.

🔹 Madya (minuman fermentasi) → dalam sesaji, bisa digantikan dengan air atau tirta
🔹 Māṁsa (daging) → dalam sesaji, bisa berupa makanan tertentu seperti ayam ingkung

🔹 Matsya (ikan) → dalam sesaji, bisa berupa lauk-pauk yang disiapkan untuk persembahan
🔹 Mudrā (biji-bijian atau gestur) → dalam sesaji, bisa berupa beras kuning atau bunga yang disusun dalam pola tertentu
🔹 Maithuna (hubungan energi) → dalam sesaji, bisa berupa mantra atau niat yang menghubungkan manusia dengan kekuatan semesta.

  • Pañca Makāra adalah metode langsung untuk mengalami energi semesta, sedangkan sesaji adalah sarana untuk mengundang dan menyeimbangkan energi itu.
  • Jika Pañca Makāra adalah cara menghidupkan api energi dalam diri, maka sesaji adalah bahan bakarnya.
  • Keduanya bertujuan untuk mencapai harmoni dan keseimbangan dengan alam serta kesadaran tertinggi.

 Pañca Makāra adalah cara "mengalirkan" energi, sementara sesaji adalah "sumber dayanya" dalam bentuk materi yang dihormati.


Literasi :

  • Anandamurti, Shrii Shrii (1993).Discourses on Tantra. Ananda Marga.
  • Avalon, Arthur (Sir John Woodroffe).Mahanirvana Tantra.
  • Rawson, Philip (1978).The Art of Tantra. Thames & Hudson Ltd.
  • Anandamurti, Shrii Shrii (1985). Namah Shiváya Shántáya. Ananda Press.
  • ADIPARWA 54;134;168
  • AGASTYPARWA 356;357
  • SMARADHANA 4;18
  • SUMANASANTAKA 117.7

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SAJEN SEBAGAI KOSMOS NUSANTARA DAN AKAR PENGETAHUAN EKOLOGI

BUBAT adalah Yajña bukan PERANG

KAKAWIN SUTASOMA pupuh I bait 1,2